Kebangkitan Cina dan India
Dua negara yang paling menonjol – dan paling banyak disebut oleh para ekonom dan pakar globalisasi – adalah dua negara Asia yang sebelumnya memiliki jumlah penduduk miskin terbesar, India dan Cina. Kebetulan, dua negara ini adalah pusat-pusat budaya, agama, dan ilmu pengetahuan di masa lampau. Seandainya mereka tampil menjadi pusat ekonomi, politik, dan budaya baru pasca Amerika maka keduanya memang telah memiliki akar pijakan budaya yang kuat untuk itu.
India dan Cina berjaya terutama berkat liberalisasi pasar, ketepatan pilihan industrialisasi dan kepemimpinan yang baik. Dengan kombinasi ketiga kata kunci tersebut, India dan Cina berhasil mencapai secara konstan pertumbuhan tinggi, akumulasi kapital, pertanian berlimpah, dan penguasaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Cina ditakuti dan disegani secara ekonomi karena negara ini juga merupakan pemborong utama perusahaan-perusahaan AS yang diambang kebangkrutan, termasuk yang disebutkan di atas.
Dasar bagi kebangkitan Cina, demikian Fareed, diletakkan oleh Deng Xioping pada Desember 1978 pada Pleno kesebelas Komite Sentral Partai Komunis Cina (PKC). Deng membawa Cina untuk fokus pada pembangunan ekonomi dan mengandalkan pasar sebagai basis bagi pembangunan ekonomi tersebut. Dalam pidato menyerukan para anggota Komite Sentral PKC untuk menerima gagasan liberalisasi, Deng membuat ungkapan yang terkenal: “It doesn’t matter if it is a black cat or white cat. As long as it can catch mice, it is a good cat.” Deng membawa Cina memilih jalan prakmatis bagi modernisasi pertumbuhan ekonominya.
Sebagai bagian dari liberalisasi ini, Cina mengembangkan hubungan baik dan menjalin hubungan ekonomi dengan semua negara, termasuk AS, tanpa mempertimbangkan ideologi dan sistem politik negara-negara mitranya. Dalam konteks ini, hubungan dengan AS menjadi subyek yang menarik. Menurut Fareed, para pemimpin Cina sejak Deng sesungguhnya menempatkan hubungan baik dengan AS sebagai prioritas politik luar negeri. Kondisi politik global, soal Taiwan, dan perubahan domestik AS memang kerap membuat hubungan kedua negara ini tidak mudah. Kendati demikian para pemimpin Cina pada dasarnya tidak ingin berkonflik dengan AS.
Cina mendorong pertumbuhan industri manufaktur, yang memproduksi barang-barang kebutuhan dengan harga murah dalam jumlah yang besar. Produk industri Cina ini, yang didominasi barang-barang elektronika dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari, diproduksi bukan semata untuk tujuan ekspor tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar di dalam negeri. Untuk menjaga agar pemerintah tetap bisa memegang kontrol, atau setidaknya menjaga pengaruh, terhadap pasar maka pemerintah menjaga devisa tetap tinggi. Pemerintah mempertahankan sistem politik otoriter berbasis satu partai.
India, sama seperti Cina, juga mengambil jalan liberalisasi ekonomi. Dalam konteks ini, India lebih mudah menjalaninya karena telah lama menjalani hidup sebagai negara yang demokratis, dan India bahkan tetap bertahan pada demokrasi meskipun menjalani masa-masa sulit dalam kemiskinan sejak merdeka dari Inggris tahun 1947. Titik terang menuju kebangkitan ekonomi India muncul di awal tahun 1990-an ketika India secara lebih tegas mengadopsi liberalisasi ekonomi. Sebelumnya, untuk waktu yang lama India menerapkan ekonomi semi-sosialis dan menjalin politik luar negeri yang lebih dekat dengan Uni Soviet. Dengan berakhirnya Perang Dingin (1989) dan bubarnya Uni Soviet (1990) maka India harus mengambil jalan berbeda. Kebijakan liberalisasi ekonomi diikuti kemudian hubungan baik dengan AS dan Cina menjadi modal penting bagi pembangunan ekonomi India.
Sebagaimana Cina, industrialisasi – terutama industri teknologi informasi, komputer, elektronik, dan jasa – tumbuh pesat di India. Namun, industrialisasi India tidak hanya pada hal-hal di atas, tetapi juga industri berteknologi menengah dan tinggi. Berbeda dengan Cina, pemerintah India – sebagai konsekuensi dari sistem politik demokratis – tidak mengarahkan dan terlalu mencampuri proses industralisasi dan modernisasi ekonomi yang berlangsung. “Pertumbuhan ekonomi India berlangsung bukan atas perencanaan pemerintah tetapi justru karena pembiaran. Bukan pertumbuhan dari atas (top-down) tetapi pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Ini pertumbuhan yang tidak beraturan, kacau dan tidak terencana,” tulis Fareed. Kok bisa demikian?
Salah satu jawabnya, menurut Fareed, adalah apa yang biasa dikenal sebagai investasi manusia (human investment). Di masa-masa ekonomi yang sulit, terutama pada tahun 1970-an, banyak orang India yang pandai pergi mencari penghidupan di luar negeri. Mereka yang bersekolah di luar negeri, karena merasa tidak akan mendapatkan tempat cocok di dalam negeri, bertahan untuk bekerja di luar negeri. Fenomena ini kerap disebut sebagai brain drain (konotasi yang merugikan bagi India), tetapi sebenarnya menurut Fareed yang terjadi justru brain gain (konotasi yang menguntungkan India). Para ahli dan terpelajar India di luar negeri memainkan peran besar dalam membuka ekonomi negerinya sendiri. Mereka kembali ke India dengan uang membawa (money), gagasan investasi (investment ideas), standar global (global standard). Selain itu, dan ini yang lebih penting, fenomena tersebut telah menanamkan perasaan kebanggaan bahwa orang India bisa menguasai apa saja.
Posisi Indonesia
Dalam hiruk-pikuk perubahan, transformasi, ekspansi, dan kejayaan yang dicapai banyak negara tersebut, lantas di mana posisi Indonesia? Tidak ada bahasan penting tentang Indonesia dalam buku ini, kecuali beberapa sebutan merujuk pada ilustrasi atau contoh yang tidak penting. Fareed, dan tampaknya kita sendiri bisa makfum, belum ada sumbangan atau pencapaian Indonesia yang layak untuk mendapatkan bahasan dalam buku ini. Sayang sekali memang, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara ternyata tidak mendapatkan tempat layak dalam Dunia Pasca Amerika.
Pada dekade sebelumnya, di era pergerakan kapital dari AS ke Asia yang melahirkan ekspansi ekonomi global kedua, Indonesia juga kurang berhasil dan hanya mencapai, saat itu dalam konsep High Performing Asian Economies, setingkat di bawah Malaysia dan Thailand, dan dua tingkat di bawah tiga macan Asia, Korea Selatan, Singapura, dan Hongkong. Bahkan, pada akhir tahun 1990-an Indonesia masuk dalam daftar negara Asia yang paling parah menderita krisis ekonomi, dan paling akhir keluar dari krisis tersebut. Meskipun krisis ekonomi di akhir 1990-an telah melahirkan demokratisasi politik, Indonesia mengalami kebangkrutan ekonomi yang dampaknya belum pulih hingga sekarang. Kini, ketika negara-negara berjaya dalam ekspansi ekonomi global ketiga, Indonesia tidak berhasil memanfaatkan peluang tersebut.
Indonesia rasanya telah menerapkan tiga kata kunci dari kebangkitan India dan Cina. Indonesia menerapkan liberalisasi ekonomi, meskipun setengah-setengah dan gamang. Indonesia telah lama memperdebatkan pentingnya industrialisasi yang relevan, meskipun berhenti pada perdebatan. Indonesia juga telah lama menginginkan tata kelola pemerintahan dan pemerintah yang baik, meskipun masih sebatas keinginan.
Pelajaran lain dari kebangkitan Cina dan India adalah bahwa penduduk yang banyak, yang selama ini dianggap beban dan liabilitas, ternyata justru peluang dan basis pertumbuhan ekonomi. Di sinilah menjadi tugas pemimpin dan pemegang pemerintahan untuk memfasilitasi agar penduduk yang besar bisa memberikan sumbangan besar dalam pertumbuhan ekonomi. Pemimpin dan pemegang pemerintahan tidak relevan lagi menjadikan penduduk yang besar sebagai excuse bagi ketertinggalan dan keterbelakangan. (halaman sebelumnya)
*) Endi Haryono, staf pengajar Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP UPN Veteran Yogyakarta..
Resensi ini dipublikasikan di Jawa Pos, 2 November 2008
[...] Sosial Untuk Indonesia Just another WordPress.com weblog « Hello world! INDIA DAN CINA SEGERA MENJADI PUSAT DUNIA BARU PASCA AMERIKA (part 2) [...]