<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Keadilan Sosial Untuk Indonesia</title>
	<atom:link href="http://endiharyono.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://endiharyono.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Dec 2008 10:28:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='endiharyono.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Keadilan Sosial Untuk Indonesia</title>
		<link>http://endiharyono.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://endiharyono.wordpress.com/osd.xml" title="Keadilan Sosial Untuk Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://endiharyono.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>INDIA DAN CINA SEGERA MENJADI PUSAT DUNIA BARU PASCA AMERIKA</title>
		<link>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika/</link>
		<comments>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 10:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endiharyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endiharyono.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Fareed Zakaria. The Post-American World (New York: Norton &#38; Company, 2008). 292 halaman (termasuk index). INDIA DAN CINA SEGERA MENJADI PUSAT DUNIA BARU PASCA AMERIKA Oleh: Endi Haryono *) DI BALIK politik internasional yang berkecamuk, kacau dan hingar bingar sepanjang awal abad 21 dengan peristiwa-peristiwa tragis seperti pemboman World Trade Center, perang Afghanistan, perang Irak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=15&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Fareed Zakaria. <em>The Post-American World</em> (New York: Norton &amp; Company, 2008). 292 halaman (termasuk index).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="IN">INDIA DAN CINA SEGERA MENJADI PUSAT DUNIA BARU PASCA AMERIKA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><span lang="IN">Oleh: Endi Haryono *)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">DI BALIK politik internasional yang berkecamuk, kacau dan hingar bingar sepanjang awal abad 21 dengan peristiwa-peristiwa tragis seperti pemboman <em>World Trade Center</em>, perang Afghanistan, perang Irak, dan perang saudara di Palestina, perekonomian dunia terus tumbuh dengan pesat dan melahirkan kekuatan-kekuatan ekonomi baru negara-negara yang berjaya dalam globalisasi. Uniknya, justru di tengah ekonomi dunia yang tumbuh pesat tersebut, demikian Fareed, Amerika Serikat memasuki masa-masa kritis yang akan mengakhiri supremasi ekonomi, politik, dan budaya yang lebih setengah abad disandangnya. AS, justru ketika sedang memikul status adidaya tunggal, bakal segera kehilangan posisi sebagai kiblat ekonomi, politik dan budaya dunia di era globalisasi ini, menyisakan hanya sebuah supremasi militer yang tak lama lagi juga akan menjadi tidak relevan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>AS sedang merosot. Kondisi AS barangkali bisa disamakan dengan Inggris yang mengalami kebangkrutan ekonomi, politik, dan sosial di akhir Perang Dunia II atau bahkan sama seperti Asia di abad 15 yang surut dari kejayaan karena perang saudara dan kemudian invasi kolonialisme Eropa. Kejatuhan Lehman Brothers pada akhir September 2008 adalah tanda terbaru dari kemesorotan ekonomi AS. Sebelumnya, menyusul krisis <em>subprime mortgage</em>, beberapa perusahaan besar AS juga telah mengalami kebangkrutan, dan beberapa beralih ke pemilik modal Asia, misalnya Citigrup, Merril Lynch, Barclays, Morgan Stanley, dan Blakstone.<span> </span>Kepemimpinan Presiden George Bush (jr), penguasa Gedung Putih paling kontroversial, turut memberikan kontribusi penting bagi percepatan lengsernya peran global AS, membuka jalan bagi apa yang oleh Fareed disebut sebagai Dunia Pasca Amerika (Post-American World). AS gagal dalam ekonomi global karena terlibat dalam perang dan perang, kebijakan paling menonjol dari Presiden Bush. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Fareed memang berbagi pandangan dengan banyak pengamat, dan terutama para pengritik Bush, tentang diagnosis bagi kemerosotan peran global AS tersebut.Kendati demikian, buku yang ditulisnya dan diresensi ini bukan semata menceritakan kemunduran AS, terutama pada hampir delapan tahun di bawah Bush. Buku ini, demikian Fareed menulis, lebih tentang kebangkitan negara-negara lain di luar AS. “Ini buku tentang transformasi-transformasi besar yang berlangsung di seluruh dunia yang, meskipun telah kerap didiskusikan, masih belum dipahami secara memadai,” lanjutnya. Negara-negara lain di luar AS tersebut, yang telah banyak disebut oleh para penulis sebelumnya, <span> </span>adalah Cina dan India pada lapis pertama; Brazil, Rusia, Turki, dan Afrika Selatan pada lapis kedua; dan pada lapis ketiga terdapat Kenya dan beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Sayangnya, Indonesia tidak masuk dalam deretan negara yang berjaya secara ekonomi sehingga tidak mendapatkan tempat penting dan bahasan yang memadai dalam Dunia Pasca Amerika. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Buku ini menunjukkan bahwa semua negara bisa meraih kejayaan ekonomi dan menang dalam globalisasi tanpa harus merugikan negara yang lain, bahkan dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Memang, globalisasi sendiri membuka sekaligus peluang dan perangkap. Kejayaan ekonomi negara-negara dicapai dengan sikap terbuka untuk menerima dan mempelajari bangsa lain dan, pada saat bersamaan, mengenali keunggulan diri sendiri. Hanya dengan kejayaan ekonomi maka sebuah bangsa bisa mengejar ambisi yang lain untuk berjaya di bidang politik dan budaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Globalisasi hanya tampaknya menakutkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Globalisasi membawa kesempatan dan hanya tampak luarnya saja yang menakutkan. Fareed berargumentasi, dunia tempat kita hidup ini – yang tampaknya sebuah dunia yang sangat berbahaya untuk hidup – sesungguhnya adalah sebuah dunia yang lebih aman ketimbang tahun 1970-an, 1980-an, atau awal 1990-an. “Saya tidak percaya bahwa perang telah menjadi usang atau semacam kebodohan. Naluri alami manusia masih tetap seperti apa adanya dan demikian pula politik internasional,” tulisnya (hal. 9). Argumentasinya didukung data-data tentang korban perang dari satu dekade ke dekade berikutnya, yang menunjukkan bahwa dunia saat ini jauh lebih aman untuk hidup ketimbang dunia pada dekade-dekade sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Pada dekade 2000-an, perang yang serius hanya terjadi di Afghanistan dan Irak menyusul aksi kekerasan terorisme berupa pemboman atas menara kembar <em>World Trade Centre</em> di New York. Selebihnya adalah konflik-konflik bersenjata terbatas dan aksi-aksi pemboman oleh banyak kelompok teroris dengan korban – yang kalau ditotal – jauh lebih kecil ketimbang korban perang, konflik, dan kekerasan pada dekade-dekade 1970-an dan 1980-an.<span> </span>Selain jumlahnya semakin sedikit dan korban jiwa lebih kecil, perang yang terjadi juga tidak membawa dampak instabilitas kawasan dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi global. Fareed bahkan, mengutip profesor Havard Steven Pinker, berargumentasi “bahwa hari ini kita barangkali hidup di masa yang paling damai dalam keberadaan spesies kita.” (hal. 9).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Lantas, mengapa dunia yang menurut fakta-fakta obyektif sesungguhnya lebih aman tersebut justru dianggap oleh publik sebagai dunia yang lebih berbahaya, kacau, dan mengancam? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">“Salah satu alasan terjadinya ketidaksesuaian (<em>mismatch</em>) antara realitas dan perasaan kita atas realitas tersebut barangkali karena, lebih dibandingkan dekade-dekade yang silam, kita mengalami sebuah revolusi teknologi informasi yang membawa kepada kita berita-berita dari seluruh dunia seketika, nyata, dan terus-menerus. Kedekatan gambaran-gambaran peristiwa dan intensitas berita-berita berkesinambungan 24 jam bersama-sama telah menghasilkan hiperbola yang konstan. Setiap gangguan cuaca adalah ‘badai abad ini’. Setiap bom yang meledak adalah <em>breaking news</em>. Sangat sulit untuk menaruh semua ini dalam konteks secara pas karena revolusi informasi demikian baru” tulis Fareed (hal. 9).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Bahkan hingga dekade 1990-an, beberapa perang dan konflik dengan korban jiwa besar banyak yang luput dari tayangan media dan televisi, tetapi saat ini bahkan<span> </span>berita-berita kurang penting seperti ledakan bom tanpa korban jiwa mendapatkan pemberitaan besar dan muncul berulang-ulang dalam berita televisi. Revolusi teknologi informasi menjadikan aksi kekerasan teroris dengan target sipil yang acak (yang sebelumnya telah ada dan bahkan lebih serius) demikian dominan dan tidak terlawankan. Revolusi teknologi informasi mengubah pemboman yang kurang siginifikan menjadi peristiwa terorisme yang penting. Pemberitaan demikian membuat orang yang menonton televisi berpikir ‘hal yang sama bisa terjadi pada saya’ setiap kali menyaksikan pemberitaan tentang tindakan terorisme atas sasaran-sasaran sipil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Ekspansi ekonomi ketiga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Di balik pemberitaan<span> </span>terus-menerus oleh media massa (khususnya televisi) tentang dunia yang tidak aman dan mengancam, pergeseran yang fundamental telah berlangsung pada bidang ekonomi sebagai basis struktural tatanan global. Di seluruh penjuru dunia, ekonomi telah mengalahkan politik. Perekonomian global terus tumbuh (hal. 18) mengabaikan kondisi dan ‘resiko politik’ dalam dua dekade terakhir. Fareed menyebut pergeseran tersebut sebagai ‘ekspansi ketiga ekonomi global’ dan sejauh ini yang paling dahsyat dibandingkan ekspansi-ekspansi ekonomi global pada dua peristiwa sebelumnya. Ekspansi ekonomi global yang pertama, tahun 1890-an dan 1990-an, didorong oleh pergerakan kapital dari Eropa ke Dunia Baru (Amerika). Pada ekspansi ini, tiga negara industri berjaya menjadi kekuatan ekonomi dunia: AS, Jerman, dan Inggris. Ekspansi ekonomi global kedua, tahun 1950-an dan 1990-an, didorong oleh pergerakan kapital dari Amerika Serikat ke Eropa dan Asia Timur. Era ini melahirkan kekuatan-kekuatan ekonomi baru yang berjaya, yang paling menonjol Jepang dan dalam beberapa derajat tertentu Korea Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Sama seperti dua ekspansi ekonomi global sebelumnya, kapital memegang peran sentral. Ekspansi ekonomi global ketiga, yang sedang berlangsung saat ini, didorong oleh pergerakan kapital dari Barat (AS dan Uni Eropa) ke Asia dan berbagai belahan dunia yang lain. Sebagai hasil dari ekspansi ekonomi global ketiga, Fareed menulis, “antara tahun 1990 dan 2007 ekonomi global tumbuh dari US$ 22,8 trilyun menjadi US$53,3 trilyun, dan perdagangan global meningkat 133 persen”. (hal. 20). Namun, berbeda dengan dua ekspansi ekonomi global sebelumnya di mana negara-negara kekuatan ekonomi baru berjaya karena ekspor, negara-negara kekuatan ekonomi baru pada ekspansi ketiga juga berjaya karena ditopang oleh pasar domestiknya sendiri. <a href="http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika-part-2/">bersambung ke</a><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endiharyono.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endiharyono.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=15&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1026413678ee38cf7ecfeba24f016d4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">endiharyono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INDIA DAN CINA SEGERA MENJADI PUSAT DUNIA BARU PASCA AMERIKA (part 2)</title>
		<link>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika-part-2/</link>
		<comments>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 10:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endiharyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://endiharyono.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Kebangkitan Cina dan India Dua negara yang paling menonjol – dan paling banyak disebut oleh para ekonom dan pakar globalisasi – adalah dua negara Asia yang sebelumnya memiliki jumlah penduduk miskin terbesar, India dan Cina. Kebetulan, dua negara ini adalah pusat-pusat budaya, agama, dan ilmu pengetahuan di masa lampau. Seandainya mereka tampil menjadi pusat ekonomi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=7&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--> <strong><span lang="IN">Kebangkitan Cina dan India</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dua negara yang paling menonjol – dan paling banyak disebut oleh para ekonom dan pakar globalisasi – adalah dua negara Asia yang sebelumnya memiliki jumlah penduduk miskin terbesar, India dan Cina. Kebetulan, dua negara ini adalah pusat-pusat budaya, agama, dan ilmu pengetahuan di masa lampau. Seandainya mereka tampil menjadi pusat ekonomi, politik, dan budaya baru pasca Amerika maka keduanya memang telah memiliki akar pijakan budaya yang kuat untuk itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">India dan Cina berjaya terutama berkat liberalisasi pasar, ketepatan pilihan industrialisasi dan kepemimpinan yang baik. Dengan kombinasi ketiga kata kunci tersebut, India dan Cina berhasil mencapai secara konstan pertumbuhan tinggi, akumulasi kapital, pertanian berlimpah, dan penguasaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Cina ditakuti dan disegani secara ekonomi karena negara ini juga merupakan pemborong utama perusahaan-perusahaan AS yang diambang kebangkrutan, termasuk yang disebutkan di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Dasar bagi kebangkitan Cina, demikian Fareed, diletakkan oleh Deng Xioping pada Desember 1978 pada Pleno kesebelas Komite Sentral Partai Komunis Cina (PKC). Deng membawa Cina untuk fokus pada pembangunan ekonomi dan mengandalkan pasar sebagai basis bagi pembangunan ekonomi tersebut. Dalam pidato menyerukan para anggota Komite Sentral PKC untuk menerima gagasan liberalisasi, Deng membuat ungkapan yang terkenal: “<em>It doesn’t matter if it is a black cat or white cat. As long as it can catch mice, it is a good cat</em>.” Deng membawa Cina memilih jalan prakmatis bagi modernisasi pertumbuhan ekonominya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Sebagai bagian dari liberalisasi ini, Cina mengembangkan hubungan baik dan menjalin hubungan ekonomi dengan semua negara, termasuk AS, tanpa mempertimbangkan ideologi dan sistem politik negara-negara mitranya. Dalam konteks ini, hubungan dengan AS menjadi subyek yang menarik. Menurut Fareed, para pemimpin Cina sejak Deng sesungguhnya menempatkan hubungan baik dengan AS sebagai prioritas politik luar negeri. Kondisi politik global, soal Taiwan, dan perubahan domestik AS memang kerap membuat hubungan kedua negara ini tidak mudah. Kendati demikian para pemimpin Cina pada dasarnya tidak ingin berkonflik dengan AS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Cina mendorong pertumbuhan industri manufaktur, yang memproduksi barang-barang kebutuhan dengan harga murah dalam jumlah yang besar. Produk industri Cina ini, yang didominasi barang-barang elektronika dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari, diproduksi bukan semata untuk tujuan ekspor tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar di dalam negeri. Untuk menjaga agar pemerintah tetap bisa memegang kontrol, atau setidaknya menjaga pengaruh, terhadap pasar maka pemerintah menjaga devisa tetap tinggi. Pemerintah mempertahankan sistem politik otoriter berbasis satu partai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>India, sama seperti Cina, juga mengambil jalan liberalisasi ekonomi. Dalam konteks ini, India lebih mudah menjalaninya karena telah lama menjalani hidup sebagai negara yang demokratis, dan India bahkan tetap bertahan pada demokrasi meskipun menjalani masa-masa sulit dalam kemiskinan sejak merdeka dari Inggris tahun 1947. Titik terang menuju kebangkitan ekonomi India muncul di awal tahun 1990-an ketika India secara lebih tegas mengadopsi liberalisasi ekonomi. Sebelumnya, untuk waktu yang lama India menerapkan ekonomi semi-sosialis dan menjalin politik luar negeri yang lebih dekat dengan Uni Soviet. Dengan berakhirnya Perang Dingin (1989) dan bubarnya Uni Soviet (1990) maka India harus mengambil jalan berbeda. Kebijakan liberalisasi ekonomi diikuti kemudian hubungan baik dengan AS dan Cina menjadi modal penting bagi pembangunan ekonomi India.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Sebagaimana Cina, industrialisasi – terutama industri teknologi informasi, komputer, elektronik, dan jasa – tumbuh pesat di India. Namun, industrialisasi India tidak hanya pada hal-hal di atas, tetapi juga industri berteknologi menengah dan tinggi. Berbeda dengan Cina, pemerintah India – sebagai konsekuensi dari sistem politik demokratis – tidak mengarahkan dan terlalu mencampuri proses industralisasi dan modernisasi ekonomi yang berlangsung. “Pertumbuhan ekonomi India berlangsung bukan atas perencanaan pemerintah tetapi justru karena pembiaran. Bukan pertumbuhan dari atas (top-down) tetapi pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Ini pertumbuhan yang tidak beraturan, kacau dan tidak terencana,” tulis Fareed. Kok bisa demikian?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Salah satu jawabnya, menurut Fareed, adalah apa yang biasa dikenal sebagai investasi manusia (<em>human investment</em>). Di masa-masa ekonomi yang sulit, terutama pada tahun 1970-an, banyak orang India yang pandai pergi mencari penghidupan di luar negeri. Mereka yang bersekolah di luar negeri, karena merasa tidak akan mendapatkan tempat cocok di dalam negeri, bertahan untuk bekerja di luar negeri. Fenomena ini kerap disebut sebagai <em>brain drain</em> (konotasi yang merugikan bagi India), tetapi sebenarnya menurut Fareed yang terjadi justru <em>brain gain</em> (konotasi yang menguntungkan India). Para ahli dan terpelajar India di luar negeri memainkan peran besar dalam membuka ekonomi negerinya sendiri. Mereka kembali ke India dengan uang membawa (money), gagasan investasi (investment ideas), standar global (global standard). Selain itu, dan ini yang lebih penting, fenomena tersebut telah menanamkan perasaan kebanggaan bahwa orang India bisa menguasai apa saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Posisi Indonesia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Dalam hiruk-pikuk perubahan, transformasi, ekspansi, dan kejayaan yang dicapai banyak negara tersebut, lantas di mana posisi Indonesia? Tidak ada bahasan penting tentang Indonesia dalam buku ini, kecuali beberapa sebutan merujuk pada ilustrasi atau contoh yang tidak penting. Fareed, dan tampaknya kita sendiri bisa makfum, belum ada sumbangan atau pencapaian Indonesia yang layak untuk mendapatkan bahasan dalam buku ini. Sayang sekali memang, Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara ternyata tidak mendapatkan tempat layak dalam Dunia Pasca Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Pada dekade sebelumnya, di era pergerakan kapital dari AS ke Asia yang melahirkan ekspansi ekonomi global kedua, Indonesia juga kurang berhasil dan hanya mencapai, saat itu dalam konsep <em>High Performing Asian Economies</em>, setingkat di bawah Malaysia dan Thailand, dan dua tingkat di bawah tiga macan Asia, Korea Selatan, Singapura, dan Hongkong. Bahkan, pada akhir tahun 1990-an Indonesia masuk dalam daftar negara Asia yang paling parah menderita krisis ekonomi, dan paling akhir keluar dari krisis tersebut. Meskipun krisis ekonomi di akhir 1990-an telah melahirkan demokratisasi politik, Indonesia mengalami kebangkrutan ekonomi yang dampaknya belum pulih hingga sekarang. Kini, ketika negara-negara berjaya dalam ekspansi ekonomi global ketiga, Indonesia tidak berhasil memanfaatkan peluang tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span lang="IN">Indonesia rasanya telah menerapkan tiga kata kunci dari kebangkitan India dan Cina. <span> </span>Indonesia menerapkan liberalisasi ekonomi, meskipun setengah-setengah dan gamang. Indonesia telah lama memperdebatkan pentingnya industrialisasi yang relevan, meskipun berhenti pada perdebatan. Indonesia juga telah lama menginginkan tata kelola pemerintahan dan pemerintah yang baik, meskipun masih sebatas keinginan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Pelajaran lain dari kebangkitan Cina dan India adalah bahwa penduduk yang banyak, yang selama ini dianggap beban dan liabilitas, ternyata justru peluang dan basis pertumbuhan ekonomi. Di sinilah menjadi tugas pemimpin dan pemegang pemerintahan untuk memfasilitasi agar penduduk yang besar bisa memberikan sumbangan besar dalam pertumbuhan ekonomi. Pemimpin dan pemegang pemerintahan tidak relevan lagi menjadikan penduduk yang besar sebagai <em>excuse</em> bagi ketertinggalan dan keterbelakangan. <a href="http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika/">(halaman sebelumnya)</a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">*) <em>Endi Haryono, staf pengajar Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP UPN Veteran Yogyakarta.</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN">Resensi ini dipublikasikan di Jawa Pos, 2 November 2008<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endiharyono.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endiharyono.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=7&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/india-dan-cina-segera-menjadi-pusat-dunia-baru-pasca-amerika-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1026413678ee38cf7ecfeba24f016d4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">endiharyono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/hello-world/</link>
		<comments>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 09:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>endiharyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=1&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/endiharyono.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/endiharyono.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=endiharyono.wordpress.com&amp;blog=5703127&amp;post=1&amp;subd=endiharyono&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://endiharyono.wordpress.com/2008/12/01/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e1026413678ee38cf7ecfeba24f016d4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">endiharyono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
